Biologi Crustacea (Biology of Crustacean)

Keragaman bentuk crustacea sebanding dengan kergaman sifat fungsional . Mencari makan dengan menyaring umum pada kelompok copepoda dan crustacea planktonik kecil  (Gambar 1). Kaku dengan rambut yang mirip bulu (struktur bulu) pada beberapa organ tambahan (appendages) yang berfungsi untuk menangkap partikel makanan di air. Partikel dibawa oleh bulu-bulu tersebut oleh arus yang disebabkan oleh organ-organ tambahan lainnya. Sementara itu organ ini mendorong makanan dari struktur  bulu tersebut dalam mulut. Organ tambahan ini beradaptasi untk menusuk dan menghisap pada kelompok cepepoda dan isopoda.

Makanan melewati perut yang memiliki gigi-gigi berkitin atau kasar untuk mengiling atau struktur rambut kaku untk pengayakan. Perut dengan dua ruangan pada cepepoda dihubungkan dengan kelenjar pencernaan yang mengeluarkan enzim dan menyerap nutrisi. Digesti makanan berlangsung secara ekstraselular. Ujung saluran pencernaan berakhir pada anus.

Pada moluska, penyerapan nutrisi disebarkan oleh sistem sirkulasi terbuka.  Pertukaran gas dilakukan oleh insang-insang yang berada pada beberapa oragn tambahan. Pada sebagian besar decapoda insang terletak pada ruangan dibawah carapace, dimana sering dialiri ai. Pada Kepiting darat, ruang insang yang sering basah akibat terisi air dan bekerja seperti paru-paru.

Sistem saraf pada crustacea sangat sederhana secara structural adalah mirip tangga, tetapi lebih terpusat pada kelompok dekapoda. Crustacea kecil relatif memiliki otak yang sederhana tetapi dengan organ sensoris yang berkembang baik. Sebagian besar dengan mata gabungan yang terdiri satuan sampai 14000 unit kelompok sensitive cahaya dalam struktur mosaik. Pada dekapoda mata gabungan berada pada ujung stalk yang dapat digerakkan dan dapat digunakan layaknya periskop. Crustacea memiliki penciuman yang tajam dan sangat sensitive pada senyawa kimia di perairan. Kebanyakan crustacea memiliki sepsang alat keseimbangan berupa statokis.

Crustcea merupakan invertebrate yang memiliki perilaku (behavior) yang komplek. Mereka menggunakan beragam sinyal-sinyal untuk berkomunikasi satu sama lain. Biasanya sinyal tersebut berasal dari bagian postur tubuh khusus atau gerakan kaki dan sungut. Dapat dibedakan berdasarkan tanda ciri atau warna sehingga sinyal dapat mudah terlihat/ terbaca sesama. Tipe komunikasi ini pentin g untuk membedakan teman dan pasangan. Perilaku antar pasangan kadangkala sangat rumit (Gambar 2).

Crustacea terpisah antara kelamin jantan dan betina. Gamet jarang dilepaskan di air. Indvidu jantan menggunakan organ tambahan untuk menyalurkan sperma ke betina. Terdapat pula spesies yang hermaprodit yang juga melakukan pertukaran sperma antar individu. Kijing memiliki penis yang dapat menjulur menuju kijing yang berdekatan. Perkawinan dekapoda biasanya terjadi secepatmungkin setelah betina molting dimana eksoskeleton masih lunak. Individu betina dapat menyimpan sperma untuk jangka waktu yang lama dan akan menggunakanya untuk membuahi telur di tempat khusus yang berbeda. Pada ampipoda dan isopoda, telur diperam pada ruangan yang terbentuk melalui perpanjangan kesamping dari bagian tubuh. Pada dekapoda dan kelompok crustacean lainnya, betina dapat membawa telurnya dengan organ khusus (pleopod), atau swimmerets (organ tambahan khusus  dibawah tubuh) (Gambar 2).

Larva sebagian besar crustacean bersifat planktonic yang tidak mirip dengan dewasanya. Kemungkinan sebagian besar karakteistik larva crustacea adalah naupilus, tetapi tipe dan jumlah tahapan larva sangat beragam dari kelompok satu dengan kelompok lainnya. (whj)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: