Aporrectodea tuberculata

Aporrectodea tuberculata

Gambar: Aporrectodea tuberculata

Sumber: naturewatch.ca

Kunci keberhasilan sebuah ekosistem yang seimbang tergantung dari kesuksesan siklus nutrisi dan aliran energi yang berkelanjutan. Salah satu komponen penting dalam mejalankan sistem ini adalah pihak humifikasi. Pada kasus ini lebih menyoroti cacing tanah (Aporrectodea tuberculata) sebagai oraganisme biotik yang menghabiskan sebagian besar hidupnya pada lingkungan tanah.

Banyak cacing tanah memainkan peran utama dalam mengkonversi potongan besar bahan organik, misalnya daun-daun kering menjadi humus dan dengan demikian meningkatkan kesuburan tanah. Ketika cacing mensekresikan kotorannya dalam bentuk agregrat yang disimpan pada permukaan atau di dalam tanah menjadikan tersedianya mineral dan nutrisi dalam bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Melalui terowongan yang dibuatnya, cacing tanah bermanfaat dalam menjaga struktur tanah yang terbuka sehingga menciptakan berbagai media yang memungkinkan proses aerasi dan drainase yang baik terjadi (Mollison, 1988).

Klasifikasi Taksonomi

Gambar: Aporrectodea tuberculata

Sumber: naturewatch.ca

Kingdom : Animalia

Filulum : Annelida

Kelas : Oligochaeta

Ordo : Lumbricina

Famili : Lumbricdae

Genus : Aporrectodea

Spesies : A. tuberculata ( Gambar 1)

Cacing ini terdapat pada tempat konsentrasi besar dari bahan organik. Bisa juga pada tempat dibawah kayu, kompos, batuan, parit rumput dan biasanya pada tanah setelah pemupukan alami (organik) ( John, 2007 ). Merupakan cacing tanah yang bertubuh lembut, coklat keabu-abuan dan pajang tubuh 75-150 mm. Cacing ini dapat ditemukan dibawah sampah dedauanan hutan yang basah dan sepanjang tepi sungai. Peran utama adalah mengkonsumsi dan menghancurkan bahan organik yang mati dan membantu proses dekomposisi. Jadi, memungkinkan nutrisi dikembalikan kedalam tanah untuk digunakan kembali oleh tanaman. Cacing ini bersifat hemafrodit, berarti setiap individu memiliki organ reproduksi baik jantan dan betina yang fertil dan pada umumnya tersebar luas ( Luc et al, 2008).

Fungsi Ekologis

Lumbricus rubellus dan Aporrectodea tuberculata menunjukan populasi lebih rendah pada tempat terdapat akumulasi metal sebagai peningkatan bahan organik pada tingkat tertentu (Beyer et al, 1987 dalam Sherameti dan Ajit, 2010). Hal ini mengindikasikan adanya hubungan antara dua parameter tersebut. Banyak spesies Aporrectodea tuberculata lebih suka berada pada tanah yang mengandung bahan organik sebagai sumber makanan yang berkualitas tinggi, misalnya sampah daun lebih disukai daripada mineral tanah. Oleh karena itu, akumulasi metal dapat dipengaruhi oleh sifat kepemilihan spesifik Aporrectodea tuberculata terhadap bahan organik atau jenis bahan organiknya itu sendiri ( Lock dan Janssen, 2010 dalam Sherameti dan Ajit, 2010 ). Sebagai contoh, akumulasi metal pada jaringan Aporrectodea tuberculata dapat ditemukan meningkat pada bahan organik bersumber dari sampah. Sampah lumpur ini mengandung sejumlah besar metal dan banyak terdapat pada tanah (Kizikaya, 2005 dalam Sherameti dan Ajit, 2010).

Aporrectodea tuberculata termasuk jenis cacing tanah dalam kelompokan ekofisiologi yang menempati wilayah lapisan atas atau bawah tanah (endogeik) (Fall, 1990). Populasi cacing ini tanah tergantung baik pada sifat fisik dan kimia tanah, seperti suhu tanah, kelembaban, pH, garam, aerasi dan tekstur, serta makanan yang tersedia, dan kemampuan spesies untuk mereproduksi dan melakukan penyebaran. Salah satu faktor lingkungan yang paling penting adalah pH , tetapi jenis cacing tanah ini dapat bervariasi dalam kepemilihannya. Sebagian besar cacing tanah ini menyukai tempat sampah tanah netral yang sedikit asam. PH tanah juga dapat mempengaruhi jumlah cacing melalui diapause. Pada tanah lebih asam cacing akan semakin cepat masuk diapause dan tetap dalam diapause pada waktu yang lama pada pH 6,4 (Lee, 1985).

Cacing tanah ini membentuk banyak dari dasar rantai makanan. Mereka dimangsa oleh banyak spesies burung (misalnya jalak, burung camar , gagak, seriti, dan walet), ular, mamalia (misalnya beruang , rubah , landak) dan invertebrata (misalnya kumbang tanah dan kumbang lainya serta siput ). Cacing tanah ini memiliki banyak parasit internal. Parasit cacing ini termasuk Protozoa , Platyhelminthes , Nematoda. Parasit ini dapat ditemukan di dalam darah cacing, vesikula seminalis , coelom , usus , atau dalam kepompong (kokon). Penggunaan pupuk kimia, semprotan dan debu dapat memiliki efek buruk pada populasi cacing tanah ini. Pupuk nitrogen cenderung menciptakan kondisi asam yang dapat berefek fatal pada cacing, dan sering spesimen mati dapat ditemukan di permukaan tanah setelah penerapan zat seperti DDT , belerang kapur dan arsenate .Oleh karena itu, cara yang paling dapat diandalkan untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat populasi cacing dalam tanah adalah untuk menghindari penerapan bahan kimia buatan. Menambahkan bahan organik secara teratur akan memberi mereka makanan dan kebutuhan gizi dan juga menciptakan kondisi panas optimum (pendingin di musim panas dan penghangat di musim dingin) dan kelembaban untuk merangsang aktivitas mereka (Edwards, 2004).

wahju hidayat/Departement of Biology-UNS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: