Peranan Taksonomi Tumbuhan

Peranan Taksonomi Tumbuhan

Gambar: kembang di preteli iki dasare morfologi taksonomi

Sumber: greenstone.org

Lihat pula tatanama binomial dalam biologi, taksonomi disebut juga klasifikasi atau sistematika. Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal sebagai tatanama binomial atau binomial nomenclatur, yang diusulkan oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), seorang naturalis berkebangsaan Swedia. Ia memperkenalkan enam hierarki (pemeringkatan) untuk mengelompokkan semua organisme hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut (dari tertinggi hingga terendah, istilah dalam kurung adalah usulan untuk penggunaan dalam bahasa Indonesia):

* Filum,
* kelas,
* Ordo (Bangsa),
* Familia (Suku),
* Genus (Marga), dan
* Spesies (Jenis).

Bagi tumbuh-tumbuhan, istilah Divisio sering dipakai untuk menggantikan Filum.
Dalam tatanama binomial, penamaan suatu jenis cukup hanya menyebutkan nama marga (selalu diawali dengan huruf besar) dan nama jenis (selalu diawali dengan huruf kecil) yang dicetak miring (dicetak tegak jika naskah utama dicetak miring) atau ditulis dengan garis bawah. Aturan ini seharusnya tidak akan membingungkan karena nama marga tidak boleh sama untuk tingkatan takson lain yang lebih tinggi.

Perkembangan pengetahuan lebih lanjut memaksa dibuatnya takson baru di antara keenam takson yang sudah ada (memakai awalan ‘super-” dan ‘sub-‘) dan juga takson di bawah tingkat jenis (infraspesies) (Varietas dan Forma). Dibuat pula satu takson di atas Phylum (disebut Regnum (secara harafiah berarti ‘Kerajaan’) untuk membedakan Prokariota (regnum Archaea dan Bacteria) dan Eukariota (regnum Mycota, Plantae atau Tumbuhan, dan Animalia Hewan).

A. Peranan Taksonomi

Dalam kaitan dengan kebijakan untuk mengalih-fungsikan lahan liar, umumnya hutan, menjadi lahan pertanian dan perkebunan pertimbangan dari sudut Taksonomi belum secara luas diterapkan di Indonesia.

Hakikinya Taksonomi berkaitan dengan keanekaragaman hayati dan itikad disiplin ilmu ini dan para ahlinya adalah menjaga kelestariannya sebaik mungkin. Dalam kaitanya dengan peningkatan pertanian dan perkebunan untuk memberi penguatan terhadap daya dukung negara terhadap pesatnya laju pertumbuhsn populasi penduduk telah menempatkan pemerintah Indonesia ke dalam dilema. Di satu sisi dibutuhkan konfersi lahan untuk mendukung pertanian dan perkebunan, namun di sisi yang lain melindungi keanekaragaman hayati dan potensinya yang sebagian besar justru berad a di hutan atau kawasan yang akan di konfersi. Lantas, apa yang dapat dilakukan Taksonomi?

Merupakan impian semua orang untuk menjaga seluruh hutan di Indonesia yang masih ada sebagaimana adanya. Namun faktanya jumlah penduduk Indonesia terus meningkat dengan laju yang pesat membuat upaya untuk menjaga seluruh kawasan hutan yang masih ada secara faktuil menjadi tidak mungkin untuk dilakukan sehingga pasti akan ada konversi lahan. Pertanyaan adalah kawasan hutan yang mana? Dalam kaitan dengan kebijakan penentuan hutan yang akan dikonversi Taksonomi dapat memberikan solusi.

Guna menggambarkan bagaimana Taksonomi “bekerja” terkait dengan permasalahan di atas dapat di contohkan dalam dua kawasan hutan hipotetikal di Papua yang siap untuk di konversi, hutan A dan B. Di kedua hutan tersebut tercatat keragaman jenis padan.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, ideal-nya kedua hutan tersebut patut untuk dilindungi terkait dengan keanekaragaman jenis padannya. Namun apabila memang salah satu hutan tersebut mendesak untuk dibuka untuk lahan perkebunan, maka yang mana dari kedua hutan tersebut yang mendapat prioritas utama untuk dilindungi? Bila dilihat kepada banyaknya jenis. Maka hutan A terlihat lebih tepat untuk dilindungi. Namun keputusan tersebut akan sangat berbeda bila dilihat dari sudut pandang seorang spesialis Padanaceae. Hutan B memiliki keanekaragaman jenis yang lebih rendah dari hutan A, namun untuk kategori di atas jenis hutan B lebih tinggi dari hutan A. Lebih jauh hutan B juga mewakili ke 3 marga utama dari Padanaceae demgan kelengakapan anggota infragenerik Pandanus yang ditemukan cohabitant-suatu keadaan yang sangat langka bahkan untuk ukuran New Guineas sekalipun, maka adalah hutan tersebut yang lebih layak untuk dilindungi.

Erosi genetika pada jenis-jenis yang dieksploitasi tanpa dasar ilmiah memberikan dampak yang memprihatinkan. Fragmentasi dan kerusakan habitat, pengurasan populasi alaminya dan penanaman kultivar unggul yang terus menerus sehingga mendesak kultivar lokal akan menyebabkan keanekaragaman genetika makin lama makin menipis dan akan berakhir dengan kepunahan gen-gen yang berpotensi (Sastrapradja et al 1989).

Pengelolaan sumber daya genetika tumbuhan meliputi upaya untuk melestarikan, mengamankan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman genetika seoptimal mungkin sehingga berguna bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Langkah-langkah operasioal dalam pengelolaan sumber daya genetika yang lengkap (Sumarno 2002), meliputi: 1) kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan identifikasi sumber daya genetika, 2) melakukan koleksi secara ex situ dan in situ, 3) pasporisasi dan dokumentasi, 4) evaluasi, karakterisasi, dan katalogisasi, 5) pemanfaatan, seleksi, hibridisasi, dan perakitan varietas, 6) konservasi dan rejuvinasi, serta 7) pertukaran materi, perlindungan, dan komersialisasi.

Dari kegiatan-kegiatan operasional di atas, pakar dan peminat taksonomi dapat terlibat dan berperan langsung dalam kegiatan eksplorasi, inventarisasi, identifikasi sumber daya genetika, pasporisasi, dokumentasi, evaluasi, karakterisasi, dan katalogisasi. Ini bukan tugas yang mudah mengingat objek yang dihadapi cukup besar meliputi sumber daya genetika yang terdapat dalam jutaan hektar hutan yang akan dikonservasi. Aktivitas floristik yang dilakukan di wilayah tropis seperti di Indonesia masih jauh dari selesai. Kita sedang berpacu dengan ulah manusia yang menyebabkan kepunahan sumber daya genetika. Jutaan hektar hutan punah akibat kegiatan illegal loging, pembukaan lahan baru dan penambangan yang merupakan pemicu utama kepunahan keanekaragaman biota. Tidak lama lagi kita juga akan kehilangan sumber daya genetika yang terdapat di pulau Nipah yang segera akan tenggelam akibat kegiatan penambangan pasir laut.

Penyelesaian sensus keanekaragaman hayati seluruh wilayah Indonesia tidak dapat ditunda lagi (Rifai 1995; Kostermans 2002). Flora Melaesiana harus diselesaikan secara tuntas; meskipun demikian bukan berarti bidang penelitian taksonomi lain harus menunggu eksplorasi, inventarisasi dan identifikasi selesai. Pakar dan peminat taksonomi perlu mendukung dan melakukan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan para pengguna.. Penelitian-penelitian eksplorasi, inventarisasi dan identifikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit (diperkirakan 12 juta dollar per tahun) dan hasilnya terkesan tidak berdampak langsung pada proses pembangunan, sehingga jarang sekali pengambil keputusaan yang bersedia memberikan dana yang memadai. Keadaan ini menjadi kendala untuk penyelesaian sensus keanekaragaman genetika di kawasan ini.

Penelitian-penelitian yang terkait langsung dengan pengelolaan sumber daya genetika seperti evaluasi, karakterisasi dan katalogisasi lebih banyak diperhatikan oleh pengambil keputusan. Dana yang disediakan cukup besar dan memadai. Misalnya penelitian RUT (Riset Unggulan Terpadu) untuk Jakstra 2000-2004. Pada bidang pertanian penelitian difokuskan pada kegiatan pemberdayaan sumber daya alam hayati Indonesia dalam rangka mencari terobosan ilmiah mendasar untuk memecahkan berbagai permasalahan di bidang pertanian. Lingkup penelitian dibatasi untuk tema penelitian penanda molekuler dan analisis genom. Peluang-peluang yang diberikan melalui penawaran pendanaan ini ataupun pendanaan lain (seperti Hibah Tim) perlu direspon positif oleh pakar dan peminat taksonomi. Disamping tetap melanjutkan sensus keanekaragaman genetika, penelitian-penelitian biosistematika juga perlu digalakkan terutama untuk tumbuhan yang telah memiliki informasi flora cukup lengkap seperti tumbuhan tinggi.

B.Tantangan dan Solusi

Kegiatan Taksonomi sebagai fondasi dan harus diteruskan dengan penelitian yang lebih strategis agar potensinya segera dapat diketahui bagi kepentingan masyarakat. Untuk mengakselasi kegiatan penelitian strategis ini, maka kerjasama strategis dengan peneliti termasuk peneliti di Negara maju dapat dilakukan. Pakar taksonomi sudah seharusnya juga berkomunikasi dengan ahli dan pakar lain agar potensi takson yang dipelajarinya dapat segera terungkap.Rasa saling percaya diantara berbagai pakar harus dibangun dan crisis of mutual trust yang menghantui kita para ahli harus dikikis habis ( Sukara,2007).

Pada rekrutmen pegawai tahun 2008, LIPI akan merekrut ahli taksonomi muda sebanyak mungkin karena obyek penelitian taksonomi masih terbuka luas sekali bagi peneliti Indonesia. “Ilmu taksonomi sangat diperlukan dalam dunia penelitian dan belum banyak peneliti LIPI yang menekuni bidang taksonomi,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) Prof Dr Umar Anggara Jenis melalui keterangan resminya, Sabtu (23/8/2008).

Tidak benyak ilmuan atau lulusan Biologi yang menekuni bidang Taksonomi Tumbuhan.Minimnya jumlah Taksonom di Indonesia padahal maih banyak Takson yang belum diteliti. Hal in salah satu penyebabnya adalah Taksonomi Tumbuhan merupakan ilmu yang dianggap terbilang sulit. Untuk menjadi seorang ahli Taksonomi diperlukan bukan hanya minat tapi diperlukan juga kerja keras.Ada pandangan bila menjadi seorang ahli Taksonomi Tumbuhan kehidupannya tidak akan terjamin padahal anggapan seperti itu tidaklah benar.Yang jelas Indonesia sangat membutuhkan ahli Taksonomi Tumbuhan sebanyak-banyaknya mengingat bahwa Indonesia dikenal dengan biodivesrsitasnya yang sangat tinggi.Solusi yang paling realistis untuk menanggulangi erosi sumber daya genetik yang terus terjadi adalah dengan melakukan konservasi genetika. Kegiatan ini berupa pengelolaan koleksi dan pemeliharaan pusat-pusat sumber daya daya genetik yang mewakili spektrum keanekaragaman genetik, termasuk didalamnya koleksi kultivar lokal tradisional dan kerabat liarnya.(Brown,1978).

Apabila tidak ingin dipandang seblah mata oleh pakar-pakar bidang lain, taksonomi mau tidak mau harus dapat menyelesaikan penanganan keanekaragaman hayati dan genetikanya selaras dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Teknologi yang telah ada harus dimanfaatkan. Data dan informasi yang diperoleh dengan teknik-teknik konvensional tetap dan pasti sangat berguna namun pakar taksonomi juga harus menyadari bahwa saat ini informasi dan data molekular sangat dibutuhkan oleh pengguna khususnya para pemulia tanaman. Evaluasi dan karakterisasi yang menghasilkan data keanekaragaman genetika berdasarkan marka-marka molekuler seperti RFLP, RAPD dan mikrosatelit, pemetaan gen maupun sidik jari DNA ditunggu para pemulia tanaman sebagai modal dasar dalam perakitan kultivar baru. Data dan informasi yang telah terakumulasi kemudian disintesis untuk memata-matai proses evolusi dan hubungan kekerabatan dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam kegiatan rekayasa genetika.

Perlu dipahami bahwa taksonomi dan biosistematika bukan ilmu yang dapat menyelasaikan semua permasalahan dalam lingkup biologi. Dalam hal pengelolaan sumber daya genetika ini sudah semestinya taksonomi dan biosistematika bekerjasama dengan disiplin ilmu yang lain. Ilmu itu berkembang sehingga pusat kepentingan akan berubah bergantung pada arah perkembangan dan kebutuhan terhadap ilmu. Pada awal perkembangan biologi, taksonomi menempati garis depan karena prioritas ilmu pada waktu itu adalah mengenali unit-unit hayati. Sekarang kebutuhannya berbeda, oleh karena itu taksonomiwan (termasuk didalamnya biosistematikawan) harus menyadari pergeseran nilai ini dan menyesuaikan posisinya dengan perkembangan yang ada (Adisoemarto & Suhardjono 1997).

wahju hidayat/Departement of Biology-UNS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: