September 28, 2011

Hormon Tumbuhan, Auxin, Signal Perluasan Sel

Hormon Tumbuhan, Auxin, Signal Perluasan Sel

Gambar: role auxin

Sumber:dengan izin mbah google

Pertumbuhan sel pada tumbuhan tingkat tinggi sering terjadi tanpa peningkatan volume sitosol. Karena kekuatan ionik rendah dari dinding sel, air cenderung untuk meninggalkannya dan memasuki sitosol dan vakuola, menyebabkan sel untuk berkembang. Proses melonggarkan dari dinding sel primer yang disebabkan oleh auksin, memungkinkan sel untuk berkembang dalam arah tertentu, ukuran dan bentuk tumbuhan ditentukan terutama oleh jumlah dan arah pembesaran ini (Gambar 1a). Sel-sel individu tumbuhan dapat meningkatkan ukuran dengan sangat cepat dengan melonggarkan dinding sel dan mendorong sitosol dan membran plasma. Peningkatan volume sel hanya disebabkan perluasan vakuola intraselular oleh serapan air. Kita dapat membuktikan fenomena ini dengan mempertimbangkan bahwa jika semua sel di pohon redwood dikurangi seukuran sel hati (≈ 20 mm diameter), pohon itu hanya akan memiliki ketinggian maksimum 1 meter.

Gambar 1: Perpanjangan sel tumbuhan:
(a) Perubahan struktur sel tanaman selama proses perpanjangan. Serapan air menyebabkan tekanan internal (turgor), kehadiran auksin, dinding sel melonggar, dan tekanan turgor dinding pada dinding longga menyebabkan pemanjangan sel. (b) Usulan mekanisme dinding sel mengendur dalam sel tumbuhan. [Part (b) adapted from L. Taiz, 1994, Proc. Nat’l. Acad. Sci. USA 91:7387.]

Sumber: Section 22.5, The Dynamic Plant Cell Wall

Kemampuan auksin (indole-3-asam asetat) untuk memercepat induksi perpanjangan sel pertama kali ditunjukkan dalam eksperimen klasik pad coleoptile rumput dan gandum. Menurut hipotesis pertumbuhan-asam, auksin merangsang sekresi proton pada akhir “pertumbuhan” pada sel dengan mengaktifkan (langsung atau tidak langsung) suatu pompa proton yang terikat pada membran plasma (Gambar1b). Akibatnya, pH dinding sel sekitar daerah membran plasma jatuh dari 7,0 normal menjadi turun 4,5. PH rendah mengaktifkan kelas protein dinding sel, disebut expansin yang dapat mengganggu ikatan hidrogen antara mikrofibril selulosa sehingga menyebabkan struktur lapisan dari dinding sel untuk melonggar. Dengan kekakuan dinding berkurang, sel dapat memanjang.

Gambar 2: Demonstrasi experimental diamana expansin mengendurkan ikatan hidrogen:

(a) Didalam elastometer, sebuah strip kertas dijepit pada kedua ujungnya dan direndam dalam larutan. Salah satu ujung terpasang ke beban, sementara ujung lainnya dipegang tetap. Suatu agen yang dapat mengendurkan ikatan kovalen atau hidrogen antara serat selulosa akan menyebabkan strip kertas memanjang sebanyak x kali. Gerakan penjepit dicatat. (b) Perlakuan strip kertas dengan expansin pada pH 4,5 (merah) mengakibatkan melemahnya dari molekul selulosa reversibel. Sebaliknya, secara ireversibel selulase melemahkan kertas dengan memecah ikatan kovalen dalam polimer. Percobaan kontrol menunjukkan bahwa pelemahan tidak disebabkan oleh larutan dengan pH 4,5 dan itu tergantung pada keaktifan protein.

Sumber:Section 22.5, The Dynamic Plant Cell Wall

Expansin ditemukan dan dimurnikan menggunakan uji biokimia baru pada kertas selulosa murni. Kenapa kertas?, seperti dinding sel tanaman dari mana itu dibuat sehingga memilki kekuatan mekanik antara ikatan hidrogen dengan mikrofibril selulosa. Ekstrak dari dinding sel tumbuhan diuji untuk kemampuanya untuk mekanisme melemahkan kertas pada nilai pH antara 3,0 dan 5,0, tetapi tidak pada pH 7 (Gambar 2). Expansin memicu melonggarnya dinding sel dan berkebalikan ketika pH dinaikkan kembali ke 7,0. Hal ini menunjukkan expansin yang tidak memutuskan ikatan kovalen dalam selulosa. Bukti tambahan untuk hipotesis pertumbuhan-asam berasal dari studi tentang fusicoccin suatu senyawa jamur. Seperti auksin, fusicoccin menginduksi pemanjangan sel yang cepat dan memicu memompa proton keluar dari sel yang sensitif dengan disertai melonggarkan dinding sel sekitar. Aktivitas fusicoccin atau auksin dapat diblokir melalui mensisipi dinding sel dengan buffer yang mencegah pH ekstraselular turun.

IAA merupakan hormon endogenous yang terdapat pada tanaman terbentuk dari triptofan dan terdapat cicin indol (Davies, 1995). Keunikan dari IAA adalah cicin tidak jenuh (rangkap dua) dan rantai samping asam. Terbentuk ruang yang tepat antara cicin dan rantai sampingnya (Gardner et al,. 1991). IAA memiliki peran fisiologis tumbuhan dalam pemanjangan dan perkembangan sel (Campbell dan Reece, 2002).

Auksin menyebabkan pembentangan jaringan korteks, floem dan kambium sehingga sel sklerenkim menjadi rusak memicu akar keluar. Pengaruh auksin pada perkembangan sel-sel pada daerah maristem menyebabkan sel-sel memanjang (Dwijoseputro, 1994).

Kisaran pengaruh auksin meliputi metabolisme selular sampai ke koordinasi morfogenesis tumbuhan termasuk absisi dan penuaan. Pengaruh selular seperti (Gardner et al,. 1991):
1. Peningkatan sintesis nukleotida DNA dan RNA
2. Sintesis protein dan enzim
3. Pertukaran proton
4. Potensial membran
5. Pengambilan kalium

Peran utama auksin adalah pemompaan proton pada membran plasma. Pada daerah perpanjangan sel, auksin meningkatkan pompa proton sehingga dalam beberapa menit meningkatkan potensial membran dan pH dalam didinding menurun (Gambar 2). Lingkungan yang menjadi asam menyebabkan aktivasi enzim ekspansin yang melepaskan ikatan hidrogen antara ikatan mikrofibril selulosa dan melonggarkan struktur dinding sel. Intergritas selulsa murni menjadi lemah akibat pengaruh auksin. Peningkatan potensial membran mengakibatkan pengambilan ion dari luar sel ke dalam sehingga terjadi pemasukan air secara osmosis. Pemasukkan air diiringi dengan plastisitas dinding sel mengakibatkan pemanjangan sel. Auksin menginduksi ekspresi gen untuk menghasilkan protein-protein baru pada daerah perpanjangan sel hanya dalam beberpa menit. Bebarapa protein bersifat mendorong atau menghambat transkripsi ekspresi gen lainnya. Tahap selanjutnya, sel akan membentuk sitoplasma dan bahan didind sel. Auksin juga merespon pada pertumbuhan lainnya (Campbell dan Reece, 2002).

Gambar: Perpanjangan sel merupakan respon terhadap auksin. Suatu hipotesis pertumbuhan asam (Acid Growth Hipotesis) (Campbell dan Recce, 2002).

Sumber:glogster.com

Terdapat dua mekanisme sintesis IAA:
1. Eliminasi asam amino
2. Eliminasi ujung gugus karboksil dari cicn samping triptofan
Mekanisme yang paling diketahui adalah:
a. Reaksi transaminasi : gugus amino bergabung dengan α-keto menjadi asam indol
asetat
b. Dekarboksilasi : indolpiruvat menjadi indolasetaldehida.
c. Oksidasi : indolasetaldehid diubah menjadi IAA
Enzim yang diperlukan untuk mengubah triptofan menjadi IAA terdapat pada jaringan muda, seperti maritem ujung, daun muda, dan buah dalam pertumbuhan.

Gambar: skema jalur bioseintesis IAA (Salisbury dan Ross, 1992)

Sumber: qiagen.com

Zat pengatur tumbuh (ZPT) seperti asam geberelin dan IAA memilki efek fisiologis terhadap pemecahan dormansi biji memelalui mekanisme perkecambahan. Menurut Salisbury dan Ross (1995)gormon tersebut akan masuk kedalam sel dan akan ditangkap oleh protein reseptor .

Gambar: Mekanisme hormon ZPT masuk kedalam sel

Sumber: bio.miami.edu

Protein reseptor akan mengaktifkan enzim fosfolipase c (PLC). PLC menghidrolisis lipid yang mengandung inositol (fosfoinositida). Selain itu, PLC juga menghidrolisis jenis lipid terakhir berupa fosfatdilinositol 4,5-bifosfat (PIP2) mengahsilkan inositol-1,3,5-trifosfat (IP3) dan diasilgliserol (DAG). IP3 mengiduksi lepasnya Ca2+ ke sitosol yang tersimpan dalam vakuola. DAG berfungsi dalam membran sel dengan mengaktifkan enzimprotein kinase c (PKC). PKC memanfaatkan ATP untuk fosforilasi enzim tertentu untuk proses metabolisme. Sealain itu, peningkatan Ca2+ mengakibatkan aktivasi enzim lain termasuk PKC. Empat ion Ca2+ bergabung membentuk Ca-kalmodulin yang dapat menginduksi enzim kinase NAD+ dengan memfosforilasi menjadi NADP+ dan ATPase.

Produksi enzim disebabkan pengaruh hormon terhadap mRNA untuk mentranslasi enzim-enzim yang bersifat katalisis tinggi. Hormon dapat menyebabkan ekspresi gen dengan meningktkkan:
1. Aktivitas RNA polimerase
2. Jumlah RNA ribosom
3. Jumlah mRNA

Reseptor pada membran palasma akan mentranslokasi hormon menuju nuleus. Auksin menginduksi DNA dalam nukleoplasma untuk bertanskripsi menjadi pre-RNA (primary transcript) proses ini dikatalisis oleh enzim RNA polimerase. Melalui mekanisme RNA processing. Pre-RNA dirubah menjadi, mRNA, tRNA, rRNA,snRNA. snRNA(small nucleat RNA) membantu transport mRNA dari nuleoplasma menuju sitoplasma. Di dalam sitosol, mRNA terikat dalm ribosom dan memulai proses translasi protein. mRNA oleh ribosom akan diterjemahakan menjadi brbagai jenis enzim dan protein (Davies, 1995 dan Karp, 2010).

wahju hidayat/Departement of Biology-UNS

September 26, 2011

AUKSIN

Auksin

Gambar: Struktur IAA

Sumber:www.plant-hormones.info

Alamiah auksin

Istilah auksin (gambar 1) berasal dari bahasa latin dari kata “auxein” yang artinya tumbuh. Senyawa yang pada umumnya dianggap auksin jika memiliki karakter kemampuan dalam menginduksi perpanjangan sel pada batang dan tersusun dari asam indolasetat (auksin pertama yang diisolasi) dalam aktivitas fisiologisnya. Auksin biasanya dapat mempengaruhi proses lainnya selain perpanjangan sel. Oleh karena itu dianggap semua auksin berperanan kritis dan membantu mendifinisikan hormon (Arteca, 1996; Mauseth, 1991; Raven, 1992; Salisbury and Ross, 1992).

Sejarah auksin dan penelitian terdahulu

Auksin merupakan hormon tanaman yang pertama kali ditemukan. Charles Darwin merupakan diantara ilmuwan pertama yang meneliti tentang hormon tanaman. Pada bukunya “Kekuatan gerak tanaman” yang ditampilkan pada tahun 1880. Dia merupakan orang yang pertama mendiskripsikan pengaruh cahaya pada pergerakan coleoptile rumput kanari (Phalaris canariesnsis). Koleoptil daun terspesialisasi yang berasal dari nodus pertama dimana merupakan pembungkus epikotil tanaman pada tahap perkecambahan untuk proteksi sampai muncul dari tanah. Ketika cahaya diarahkan pada koleoptil, maka akan membungkuk sesuai dengan arah datangnya cahaya. Ketika ujung koleoptil ditutupi dengan alumunium foil, maka tidak akan terjadi pembungkukan menuju arah cahaya. Namun, jika ujung koleoptil dibiarkan terbuka tetapi sebagian tepat dibawah ujung tetap tertutup, maka paparan dari cahaya menghasilkan kelengkungan tanaman menuju cahaya. Eksperimen Darwin ini membuktikan bahwa ujung koleoptil terdapat jaringan yang bertanggung jawab untuk menerima cahaya dan memproduksi beberapa signal diamana akan dikirimkan pada bagian bawahnya koleoptil dimana respon fisiologis pembungkukan terjadi. Dia kemudian memotong ujung dari koleoptil dan menyinari sisa koleoptil dengan cahaya untuk melihat terjadinya proses pelengkungan. Kelengkungan tanaman tidak terjadi sehingga melaporkan hasil dari eksperimen pertama Darwin ini (Darwin, 1880).

Pada tahun 1885, Salkowski menemukan Indole-3-acetic acid (IAA) pada media fermentasi (Salkowski, 1885). Isolasi produk serupa dari jaringan tanaman tidak dapat ditemukan pada jaringan tanamn hampir selama 50 tahun. IAA merupakan auksin utama yang terlibat dalam banyak proses fisiologis pada tanaman (Arteca, 1996). Pada tahun 1907, kajian Fitting tentang pengaruh sayatan pada sisi terkena cahaya dan tidak terkena cahay pada tanaman. Hasilnya telah membantu dalam memahami jika proses translokasi signla benar-benar terjadi pada sisi khusus tanaman tetapi hasil ini kurang menyakinkan karena signal ini mampu melintasi atau menhilang dari sekitar sayatan ( Fitting, 1907). Pada tahun 1913, Boysen-jensen memodifikasi eksperimen Fitting melalui penyisipan potongan mika untuk memblok jalannya signal dan menujukan bahwa transport auksin menuju dasar telah terjadi pada sisi gelap tanaman berkebalikan dengan dengan sisi yang terekspos cahaya searah (Boysen-Jensen, 1913). Pada tahun 1918, Paal menegaskan hasil Boysen-Jansen melalui pemotongan ujung koleoptil pada kondisi gelap, menyinari hanya bagian ujung dengan cahaya, menggantikan ujung koleoptil pada tanaman tetapi bagian pangkal dipusatkan ke salah satu sisi atau lainnya. Hasilnya menunjukkan, bagian mana saja pada koleoptil yang terpapar cahaya, kelengkungan terjadi menuju pada sisi lainnya (Paal, 1918). Soding merupakan ilmuwan berikutnya yang memeusatkan perhatian terhadap penelitian auksin berdasarkan ide dari Paal. Dia menunjukan jika ujung dari koleoptil dipotong akan menghasilkan reduksi dari pertumbuhan tetapi jika dipotong dan kemudian pertumbuhan tetap berlanjut berganti pada tempat lainnya (Soding, 1925).

Gambar: Percobaan Went

Sumber: www.plant-hormones.info

Pada tahun 1926, seorang mahasiwa pascasarjana dari Belanda yang bernama Fritz Went mempublikasikan laporannya yang mendiskripsikan bagaimana dia mengisolasi substansi pertumbuhan tanaman melalui cara menempatkan agar blok dibawah ujung koleoptil selama waktu tertentu kemudian dilepaskan dan menempatkannya pada batang Avena yang dipotong (Went, 1926). Setelah penempatan agar tersebut, batang itu memulai pertumbuhan kembali (Lihat Gambar 2). Pada tahun 1928, Went mengembangkan metode untuk perhitungan substansi pertumbuhan tanaman. Hasilnya menyatakan bahwa kelengkungan pada batang proposional dengan jumlah substansi pertumbuhan pada agar (Went, 1928). Uji ini disebut tes kelengkungan avena ( Lihat Gambar 3).

Gambar: Percobaan Went

Sumber: www.plant-hormones.info

Sebagian besar pengetahuan tentang auksin saat ini diperoleh dari aplikasi ini. Pekerjaan Went memberikan pengaruh besar terhadap penelitian tentang substansi pertumbuhan tanaman. Dia sering sikaitakn dengan istilah auksin tetapi pada kenyataannya Kogl dan Haagen-smitlah yang pertama memurnikan senyawa auxientriolic acid (auxin A) dari urin manusia pada tahun 1931 (Kogl dan Haagen-Smit, 1931). Sealnjutnya Kogl mengisolasi senyawa lainnya dari urin dimana mirip dengan struktur dan fungsi auksin A, salah satunnya adalah Indole-3 acetic acid (IAA) yang pada mulanya ditemukan oleh Salkowski pada tahun 1985. Pada tahun 1954, komite ahli fisiologi tanaman merangkai karakter kelompok dari auksin. Istilah auksin berasal dari bahasa yunani yang berarti “to grow”. Senyawa yang dapat diaanggap sebagai auksin jika disintesis oleh tanaman dan substansi dimana memilki aktivitas serupa dengan IAA (uksin pertama yang diisolasi dari tanaman) (Arteca, 1996; Davies, 1995).

Biosintesis dan metabolisme auksin

IAA secara kemikal mirip dengan asam amino triptofan diamana dianggap sebagai asal dari bentuk molekul IAA. Tiga mekanisme yang dapat menjelaskan perubahan ini:

  • Triptofan diubah menjadi asam indolpiruvat melalui reaksi transmisi.
  • Asam indolepiruvat kemudian diubah menjadi indoleasetaldehid melalui reaksi dekarboksilasi.
  • Tahap akhir merupakan oksidasi indoleasetaldehid menghasilkan asam indoleasetat.

Triptofan mengalami dekarboksilasi menjadi triptamin.Triptamin kemudian dioksidasi dan deaminisassi untuk menghasilkan indolasetaldehid. Molekul ini akan mengalami oksidasi lebih lanjut untuk menghasilkan asam indoleasetat. Pada tahun 1991, mekanisme ketiga telah terlibat. IAA dapat dihasilkan melalui cara bebas triptofan mekanisme. Mekanisme ini sangat kurang diketahui, tetapi memerlukan suatu trp(-) mutan. Eksperimen lainnya telah menunjukan bahwa pada beberapa tanaman mekanisme ini merupakan proses bioseintesis IAA.

Enzim yang berperan dalam biosintesis IAA merupakan yang paling aktif pada jaringan muda seperti pada ujung maristem apikal dan daun yang sedang tumbuh serta buah. Jaringan serupa dimana ditemukan konsentrasi tinggi IAA. Salah cara tumbuhan mengontrol jumlah IAA yang ada pada jaringan pada waktu tertentu adalah melalui pengontrolan hormon biosintesis. Mekanisme kontrol lainnya melibatkan produksi secara konjugasi dimana molekul sederhana dirangkai menjadi hormon tetapi belum aktif. Pembentukkan konjugasi mungkin merupakan mekanisme penyimpanan dan penyaluran hormon hormon aktif. Konjugasi dapat dibentuk dari IAA melalui enzim hidrolase. Konjugasi dapat cepat teraktivasi ketika signal stimulus lingkungan mempercepat respon secara hormonal. Degradasi auksin merupakan akhir dari metode pengontrolan level auksin. Dua mekanisme proses ini seperti dibawah:

Oksidasi IAA oleh oksigen menghasilkan hilangnya kelompok karboksil dan 3-metilenoksindole sebagai produk utama pemecahan. IAA oksidase merupakan enzim dimana mengkatalisis proses ini. Konjugasi IAA dan auksin sintetik seperti 2,4-D tidak dapat dihancurkan melalui proses ini. C-2 dari cicin heterosiklik dioksidasi menghasilkan oxindole-3-acetic acid. C-3 kemudia dioksidasi dengan penambahan C-2 sehingga menghasilkan Dioxindole-3 acetic acid.
Mekanisme biosintesis dan degradasi dari molekul auksin sangat penting untuk aplikasi agrikultur dimasa depan. Informasi mengenai metabolisme auksin memicu manipulasi genetik dan kemia dari level hormon endogen sehingga menghasilkan pertumbuhan yang diinginkan dan deferensiasi pada spesies tumbuhan penting. Pada akhirnya, ada kemungkina untuk meregulasi pertumbuhan tumbuhan tanpa penggunaan herbisida dan pupuk yang berbahaya (Davies, 1995; Salisbury and Ross, 1992).

Fungsi Auksin

Berikut ini merupakan beberapa respon auksin yang diketahui (Davies, 1995; Mauseth, 1991; Raven, 1992; Salisbury and Ross, 1992).

1. Menstimulasi pemanjangan sel
2. Menstimulasi pembelahan sel pada kambium dan kombinasi dengan sitokinin pada jaringan
3. Menstimulasi deferensiasi floem dan xilem
4. Menstimulasi inisiasi akar pada pemtongan batang dan perkembangan akar lateral pada kultur jaringan
5. Memediasi respon tropistik pembungkukkan dalam menanggapi garvitasi dan cahaya
6. Auksin yang disuplai dari tunas apikal menekan pertumbuhan tunas lateral
7. Menunda penguguran daun
8. Dapat menghambat atau mempromosi pengguguran (melalui stimulasi etilen) daun dan buah
9. Dapat menginduksi pengaturan perbuahan dan pertumbuhan pada beberapa tanaman
10. Melibatkan pergerakkan asimilasi auksin akibat pengaruh transport floem
11. Menunda kematangan buah
12. Memicu perbungggan pad Bromeliad
13. Menstimulasi pertumbuhan pada bagian bunga
14. Memicu pengurangan sifat betina pada bunga deoecidous
15. Menstimulasi produksi etilen pada konsentrasi tinggi

Diatas telah menggambarkan pengaruh auksin pada perkembangan strawberry. Achenes telah memproduksi auksin. Ketika dilepaskan, strawberry tidak dapat berkembang (Raven, 1992).

wahju hidayat/Departement of Biology-UNS

September 19, 2011

Mikroteknik Hewan

Dehidrasi

Dehidrasi merupakan penarikan molekul air dari dalam jaringan. Digunakan untuk preparasi yang akan diproses dengan metode parafin atau seleodin. Tahap ini dilakukan setelah proses pencucian selesai. Senyawa kimia yang digunakan antara lain etanol, alkohol, etil alkohol (secara bertingkat), aseton dengan panas. Bila menggunakan dioxan maka bisa digunkan dalam;

  • Dioxan 50 % selama 3 jam
  • Dioxan murni selama 3 jam

Volume dehidran yang digunakan adalah 10 x volume jaringan.

Clearing atau penjernihan

Clearing merupakan proses membuat potongan jaringan supaya jernih atau transparan (bila perlu dilakukan dealkoholisasi). Proses ini dilakukan setelah dehidrasi selesai. Senyawa kimia yang digunakan harus dapat bercampur dengan dehidran, parafin (apabila akan diproses dengan metode parafin). Macam-macam senyawa clearing:

  • Xylol/ xylene: proses cepat, sulit untuk transparan betul, dan apabila terlalu lama disimpan akan rapuh.
  • Toluol/ toluene: proses cepat, hasilnya jernih menyakinkan, tidak menyebabkan kerasnya jaringan (kecuali disimpan terlalu lama), dan hanya untuk potongan jaringan dengan dehidran alkohol absolut.
  • Minyak cedar: sedikit mengkerutkan jaringan, dapat menjernihkan jaringan dengan dehidran alkohol 95 %, bagus untuk jaringan SNC dan kelenjar limfa, proses lambat, dan sebelum dimasukkan kedalam parafin harus dimasukkan dulu ke benzen atau xylol selam ½-1 jam.
  • Chloroform: sedikit mengkerutkan jaringan, dapat digunakan untuk jaringan-jaringan yang besar, mahal, dan sulit dipindahkan keparafin (perlu pengantian parafin murni 3-4 x).
  • Minyak cengkeh idem dengan nomer 4.
  • Anilin oil (minyak anilin): proses cepat, sedikit mengkerutkan jaringan, dapat dipindahkan langsung ke alkohol 70 % dan sukar dipindahkan ke parafin.
  • N-butyl alkohol: baik untuk objek yang keras dan padat dan prosesnya lama.

Infiltrasi Parafin

Sebelum diinfiltrasi keparafin, adaptasikan jaringan pada lingkungan parafin. Dilakukan pengusiran zat penjernih dari jaringan. Proses ini dilakukan setelah proses clearing selesai melalui. Tahapan-tahapan infiltrasi meliputi:

  • Zat penjernih + parafin murni (1:1) selama 10-30 menit
  • Parafin murni I selama 30-60 menit
  • Parafin murni II selama 30-60 menit
  • Parafin murni III selama 30-60 menit

Proses infiltrasi dilakukan dalam oven bersuhu 56 oC dengan parafin yang dipilih dengan titik cair 50-56 oC atau mengunakan campuran parafin dengan titik cair 56-48 oC dan 60-65 oC. Lama proses tergantung dari jenis dan ukuran jaringan. Misal kulit dan saraf diinfiltrasi pelan oleh parafin dan otot, jaringan fibrosa, jaringan darah, jaringan fibrin dapat cepat mengeras dalam parafin.

Embeding

Embeding merupakan penanaman potongan jaringan kedalam parafin murni dalam hal ini konsistensi memungkinkan untuk diiris dengan pisau mikrotom. Digunakan titik cair parafin embeding sama dengan titik cair parafin infiltrasi. Proses dilakukan saat menanamkan diluar oven.

Mounting

Mounting merupakan proses penutupan sediaan mikroskopis. Syarat-syarat media untuk mounting (mountan) harus:
1. Dapat merekatkan irisan jaringan dengan jaringan dan atau gelas benda dengan gelas penutup.
2. Mempunyai index refraksi tertentu
3. Tidak berwarna
4. Bersifat netral.
5. Bersifat aquosa dan non aquosa:
a. Aquosa : untuk sediaan lemak, eg. medium farrant, medium glychrogel
b. Non aquosa: eg. clearmount, crystalite, DPX, emexel, flourmount, mountan michrome, SQD. Balsam, entelan, canada balsam

Pemotongan Blok Parafin

Alat dan bahan:
1. Blok
2. Mikrotom dengan pisau baja, holder dari kayu (pemegang blok)
3. Sudut yang terbentuk

Kegagalan-kegagalan dalam pengirisan:
1. Pita yang terbentuk melengkung: blok tak sejajar dengan sisi atas bawahnya (harus disejajarkan), tajam pisau (geser), dan panas blok (dinginkan).
2. Irisan tebal-tipis: blok panas (dinginkan), blok retak (ulangi embedding), pisau tidak erat terpasang (kencangkan), mata pisau retak (ganti pisau), dan mikrotom rusak (harus diperbaiki dulu).
3. Irisan menggembung ditengah: parafin dingin ditengah dan panas diluar, pisau yang tajam hanya ditengah, parafin infiltrasi tidak sam dengan parafin blok, masih tersisa clearing agen.
4. Bagiann jaringan hancur atau lepas dari parafin: dehidran/ clearing/ infiltrasi tidak sempurna, jaringan terlalu lama dalam oven (tidak bisa dipakai lagi).
5. Pita yang terbentuk pecah dua: ada bagian pisau yang retak (harus ganti pisau), ada benda keras dalam jaringan (tanam lagi, diambil benda yang mengganggu dengan jarum)
6. Pita yang terbentuk terangkat dari blok: pasang lampu spertus, tak ada sudut clearence (ubah sudut pisau), tepi atau blok penuh serutan parafin (bersihkan dari pisau)
7. Pisau yang terbentuk mengkerut: parafin blok lunak, pisau tumpul, suhu blok lebih panas daripada suhu kamar

wahju hidayat/Departement of Biology-UNS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.